Latest News

Pengertian Mahram dan Muhrim

MUHRIM VS MAHRAM


Pada umumnya di masyarakat Indonesia selama ini ada kekeliruan penggunaan kata mahram, biasanya orang awam menyebut istilah “mahram” dengan sebutan “muhrim”. Padahal dari segi arti sangat jauh berbeda.


  1. Muhrim adalah kata subjek (pelaku) dari "ihram" yaitu orang yang telah mengenakan pakaian ihram untuk haji atau umroh.
  2. Mahram adalah orang yang diharamkan untuk dinikahi baik karena nasab (keturunan) atau persusuan. 


muhrim mahram

Mulyanya Wanita Dalam Islam


Begitu indahnya Islam dalam memperlakukan para wanita. Dalam Islam kedudukan wanita begitu mulia, kemuliaan wanita (ibu) dalam islam tiga tingkat di atas laki-laki (ayah), hal inilah yang tertuang dalam hadits Nabi ketika beliau ditanya tentang siapa orang yang paling mulia dan patut dihormati, dan Rosulullah menjawab sebanyak tiga kali dan berturut-turut dengan jawaban “ibumu” baru kemudian jawaban ke empat adalah “ayahmu”.

Pemulyaan Islam terhadap wanita Islam juga dapat kita lihat pada fiqih (aturan islam) tentang mahram. Begitu mulianya seorang wanita islam sehingga Islam mengatur masalah ini. Betapa tidak, hal yang berkaitan dengan mahram ini diantaranya adalah hukum safar atau berpergian tiga hari atau lebih, khalawat atau berdua-duaan, pernikahan dan perwalian.

Hukum Mahram Bagi Wanita Muslim


Dalam hal safar atau berpergian lebih dari tiga hari, tidak diperkenankan seorang muslimah pergi seorang diri tanpa ditemani oleh mahramnya. Hal ini memperlihatkan kepada kita betapa berharganya seorang muslimah sehingga ketika ia akan meninggalkan rumah ke tempat yang jauh dan dalam jangka waktu yang lama yaitu tiga hari atau lebih, dia harus dijaga dengan sebaik-baiknya oleh mahramnya. Mahramnya bertanggung jawab memberikan jaminan rasa aman dan kenyamanan bagi muslimah tersebut.

Aturan safar atau berpergian ini didasari oleh hadis Nabi yaitu, dari Ibnu Umar: “Haram atas wanita Islam yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan bepergian sendiri tanpa laki-laki mahramnya selama perjalanan tiga malam” (HR Muslim no. 1338 dan 1339). Demikian juga hadis lain dari Ibnu Abbas: “Jangan seorang wanita bersafar, melainkan ia bersafar bersama mahramnya” (HR Bukhari-Muslim).

Dalam riwayat lainnya seorang sahabat berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin keluar mengikuti peperangan ini dan itu. Namun istriku ingin berhaji.” Kemudian Rosulullah bersabda, “Lebih baik engkau berhaji bersama istrimu.” (Diriwayatkan oleh Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma).

Dalam hal khalawat atau berdua-duaan tanpa ditemani oleh mahramnya, Islam sangat tegas melarangnya, semata-mata sebagai perlindungan luar biasa terhadap kehormatan seorang muslimah.
Yang mendasari hal ini adalah hadits Rosululloh SAW, yaitu “Tidak boleh seorang wanita bersafar kecuali bersama mahromnya. Tidak boleh berkhalwat[8] (berdua-duaan) dengan wanita kecuali bersama mahromnya.” Kemudian ada seseorang yang berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin keluar mengikuti peperangan ini dan itu. Namun istriku ingin berhaji.” Beliau bersabda, “Lebih baik engkau berhaji bersama istrimu.” (Diriwayatkan oleh Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Untuk memperjelas mengenai mahram ini berikut adalah beberapa definisi mahram menurut para ulama. Definisi mahram menurut Imam Ibnu Qudamah rahimahullah, “Mahram adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya karena sebab nasab, persusuan dan pernikahan.” [Al-Mughni 6/555] sementara itu menurut Imam Ibnu Atsir rahimahullah, ”Mahram adalah orang-orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya seperti bapak, anak, saudara, paman, dan lain-lain”. [An- Nihayah 1/373]

Berdasarkan kedua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa mahram wanita Islam adalah suaminya dan semua orang yang haram dinikahi olehnya selama-lamanya karena sebab nasab seperti bapak, anak, dan saudaranya, atau dari sebab-sebab mubah yang lain seperti saudara sepersusuannya, ayah atau pun anak tirinya”.







0 Response to "Pengertian Mahram dan Muhrim"